BALADA SI ANAK KECIL

Karya: Nurhijrah


Tangan kecil, kulit dekil berpeluh debu jalanan

Ia menelusuri lorong- lorong rumah gedongan dan di pelataran perhentian bus

Menelusuri sepanjang jalan yang terus bersahabat dengannya menerima nasib jadi sasaran panasnya terik matahari 


Nasibnya terus mengukir jalan penuh luka dan pedih

Terkadang di hati kecilnya hadir rasa gelisah akan masa depannya yg kian mengabur

Terkadang ia mengasoh sebentar di kursi stasiun beralaskann koran sobek sambil berhayal 

Saban hari ia berada di deretan kursi- kursi belajar  layaknya anak- anak sekolahan di sana

Tak perlu lagi ia menjajakan kue penganan di sekolahan

Tak perlu lagi cemburu dengan nasib anak anak dengan orang tua berkehidupan mapan 

Bisa tenang belajar dan tak perlu lagi khawatir  dengan  hari esoknya


Mata bening kecil  itu sudah berteman lama dengan jeruji besi sekolah tempat mengintip anak sekolah belajar

Bola mata kecil itu kuat menatap keriangan anak- anak lainnya

Dia hanya bisa mengusap dada dan menelan air ludah 

Sambil bertanya dan terus bertanya "kapan ia juga bisa ada dalam gambar di lubang- lubang cahaya jeruji besi itu? 


Sungguh miris hidup anak- anak ini, tapi lebih miris lagi  nasib anak-anak yang kini berjuang melawan hidupnya sendiri


Palestina....

Sungguh malang nasib anak-anakmu 

Yang kini harus melawan takdirnya sendiri

Anak-anak cacat dan tak pernah sunyi dari jeritan tangis menyayat hati 

Kehidupan terpaksa berpisah dari  raganya 

Karena bom bardir senjata dari tangan Sang  laknat 

Mereka yang tak kenal rupa

Ambisi keserakahan dan haus darah sesama yang tak kenal batas ...

Sungguh tak habis pikir... kapan elegi ini akan berakhir ?


Wahai dunia...

Tak tahukah kamu 

Kepada siapa lagi dunia  berharap

Ketika kehampaan masa tak lagi bernyawa 

Bukankah si mata bulat kecil bening itu

Nyawa baru dunia kita letakkan

Kepadanya suka cita kan berharap

Kepadanya Allah SWT letakkan sedikit kuasanya 


Takalar, 27 Juli 2025

Comments

Popular posts from this blog

PUISI